Guru Besar Komunikasi Unair: Gerakan Moral Kampus Tidak Ada Mobilisasi, Murni Keprihatinan Para Akademisi

- 10 Februari 2024, 20:55 WIB
Guru Besar Komunikasi Unair: Gerakan Moral Kampus Tidak Ada Mobilisasi, Murni Keprihatinan Para Akademisi
Guru Besar Komunikasi Unair: Gerakan Moral Kampus Tidak Ada Mobilisasi, Murni Keprihatinan Para Akademisi /Dok. tangkapan layar youtube/

MATA BANDUNG - Maraknya aksi gerakan moral, seruan moral dan pernyataan sikap dari kalangan akademisi paska pernyataan Jokowi soal Presiden boleh berkampanye dan putusan Mahkamah Konstitusi (MK) pada akhir tahun lalu yang membuka jalan bagi putra sulung Jokowi, Gibran Rakabuming Raka, untuk menjadi pasangan calon presiden Prabowo Subianto telah memperdalam kekhawatiran mengenai demokrasi negara.

Hal tersebut terjadi dikarenakan pengadilan MK pada saat itu dipimpin oleh saudara ipar Presiden, Anwar Usman, yang kemudian dinyatakan bersalah atas pelanggaran etika karena menggunakan posisinya untuk mempengaruhi keputusan yang mengubah keadaan.

Terlebih, saat 24 Januari 2024 yang lalu Presiden Jokowi, menegaskan bahwa ia berhak mendukung calon presiden pilihannya di waktu luangnya, asalkan ia tidak menggunakan fasilitas pemerintah saat melakukannya.

Di tengah seruan moral dan pernyataan sikap yan dilakukan oleh para Guru Besar dan Sivitas Akademika dari berbagai perguruan tinggi yang ada di tanah air, banyak pihak yang menuduh bahwa aksi yang dilakukan oleh akademisi adalah aksi partisan yang terafiliasi partai politik tertentu.

Baca Juga: Guru Besar Komunikasi UII: Aksi dari Akademia karena Melihat Adanya Regresi dan Kemunduran Demokrasi

Guru Besar Komunikasi UII: Aksi dari Akademia karena Melihat Adanya Regresi Demokrasi dan Kemunduran Demokrasi
Guru Besar Komunikasi UII: Aksi dari Akademia karena Melihat Adanya Regresi Demokrasi dan Kemunduran Demokrasi

 

Tuduhan akademisi sebagai partisan menimbulkan reaksi dari para akademisi, termasuk Guru Besar Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Airlangga (Unair) Prof. Dr. Henri Subiakto mengatakan, yang terjadi bukanlah mobilisasi, namun karna  memang  sama-sama memiliki keprihatinan.

"Menggerakkan satu orang saja, saya pun sebenarnya  kalau tidak tidak punya concern yang sama, tidak punya rasa yang sama, tidak mungkin saya mau diajak-ajak sama orang, itu pun baru satu, belum nanti profesor yang lain juga belum tentu mau," kata Henri dalam aksi Seruan Moral 'Serukan Bela Negara, Selamatkan Indonesia' Guru Besar Ilmu Komunikasi se-Indonesia, 7 Februari 2024.

"Tapi sekarang ada ribuan akademisi, bahkan mungkin juga ratusan Profesor. Kalau dihitung semuanya dari 50-an perguruan tinggi se-Indonesia. ini bukan main-main. ini bukan karena mobilisasi. Bukan. Ini murni karena keprihatinan bersama," ujar Henri.

Dikatakan Henri, itulah mengapa pemerintah harus mendengarkan para akademisi, yang setiap saat mengajar tentang etika, mengajar tentang ilmu pengetahuan.

Baca Juga: Guru Besar Komunikasi Unair: Jokowi Contoh Sukses Sistem Demokrasi yang Kini Justru Mencederai Demokrasi


"Kami mengajar etika sebagai bagian dari filsafat ada epistemologi, ada estetika, ada etika. Kami mengajar etika lalu etika diinjak-injak, tentu saja kami ingin mengingatkan," tegasnya.

Sama dengan sejak zaman sejarah dulu, ata Henri, setiap ada kekuasaan, selalu ada pendeta, selalu ada orang-orang yang belajar tentang keagamaan atau etika mengingatkan kekuasaan.

"Kami melakukan itu, ini enggak ada hubungannya dengan dengan electrolate, ataupun hubungannya dengan  survei turun atau naik. Enggak ada hubungannya! Mau ada yang naik, ada yang turun, itu bukan urusan aktivis kampus atau perguruan tinggi, akademisi, itu urusan politisi," tegasnya.


"Bagi kami adalah ketika ada pelanggaran moral, ketika ada pelanggaran etika, dilakukan oleh penguasa, maka sudah menjadi tanggung jawab dari kita untuk mengingatkan mereka," kata Henri.

Baca Juga: Guru Besar Ilmu Komunikasi se-Indonesia Gelar Seruan Moral Bela Negara, Begini Pernyataan Lengkapnya!

Lebih lanjut Henri mengatakan suara yang sekarang di digaungkan di kampus-kampus, termasuk dirinya sendiri, sebenarnya sudah lama.

"Secara pribadi saya sudah menyuarakan itu, kendati kadang-kadang saya merasa kesepian, menjadi semacam mencari teman. Nampaknya sekarang teman saya banyak, ada ratusan bahkan mungkin ribuan, dan itu adalah the significant number of people, orang-orang khusus yang punya atentif punya atensi, punya punya moralitas yang menjaga negeri ini," kata Henri.

"Di bawah the significant number itu, dia akan punya pengaruh kepada mahasiswa, punya impact kepada masyarakat. Karena ketika the significant of people yang ada di perguruan tinggi sudah bergerak, berarti ada hal-hal yang memang tidak baik-baik saja di negeri ini," tutup Henri.***

Editor: Mia Nurmiarani


Tags

Artikel Pilihan

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah